07 Maret, 2009

Film Dokumenter | "Salak Bali dalam Riwayat dan Harapan"

2 komentar

"Salak Bali dalam Riwayat dan Harapan" merupakan sebuah Film Dokumenter yang mengangkat Agrowisata Salak Sibetan Karangasem, film ini sedang dalam tahapan shotting.
Dalam Film ini saya selaku produser acaranya, dimana ini untuk komsumsi televisi, mendapat kepercayaan dari sebuah PH (Production House) di Bali katanya untuk diputer di Tv One, sayapun bersemangat, kepercayaan itu berawal dari prestasi saya sebagai JUARA I Film Pendek tingkat Nasional yang diselenggarakan PERWAMI (Persatuan Wartawan Multimedia Indonesia) 2008 lalu yang bertemakan Kebangkitan Nasional, sebuah prestasi yang tak pernah aku sangka-sangka. Film itu berjudul "AKU UNTUK INDONESIA KU". Dengan prestasi itu aku dipercaya sebagai Produser acara TV bertemakan Agrowisata.


Mengapa Agrowisata Salak Sibetan?
Sebagai putra daerah, saya merasa terpanggil mengangkat salak Bali sebagai bahan Film Dokumenter ini karena identitas Salak Bali yang sudah terkenal dengan rasa yang khas, yakni rasa manis bercampur kecut dan daging buah yang tebal. Ternyata di balik itu tedapat masalah besar, kesejahteraan petani salak sangat kurang, terutama saat panen raya seperti ini, harga salak hingga Rp 800/Kg. dan ini saya rasakan langsung setelah saya berbincang-bincang dengan petani disana saat melakukan riset. Selain itu pengembangan buah salak menjadi Wine juga mengalami kendala di masalah ijin yang belum nasional. Hal itulah yang menjadi latar belakang saya mengangkat Agrowisata Salak Sibetan ini, semoga film ini bisa menggambarkan secara menyeluruh tentang Salak Bali hingga harapan kedepannya. Dalam Film ini tentunya saya tetap menyampaikan pendekatan-pendekatan tentang nilai-nilai kearifan lokal yakni TRI HITA KARANA, yang merupakan filosofi mendasar kehidupan di Pulai Bali tercinta ini.

Riset Film I mengetahui secara Umum
Setelah ide muncul tentunya perlu di dukung oleh riset, riset pertama tentunya mencari informasi di internet, kemudian saya menuju ke lokasi. Bersama dengan 3 rekan lainnya saya berangkat kesibetan dengan berbekal data di internet, waktu yang ditempuh ternyata cukup lama sekitar 1 jam 45 menit dari Panjer-Denpasar, saat riset awal saya hanya ingin mengetahui lokasi dan sedikit berbincang-bincang dengan penduduk setempat. berawal dari bertanya kepada pedagang, kantor DPD sibetan, hingga penduduk sekitar. Informasi yang didapat cukup banyak, seperti informasi masa panen raya sekarang ini Januari-Maret, harga yang murah hingga perbatasan kawasan agrowisata disana. setiba di perbatasan kami istirahat untuk makan siang, ternyata Tuhan memberi jalan, tanpa di sengaja ada seorang petani salak di dekat kami sedang bengong memperhatikan kami, mungkin di otaknya "anak uli badung ne" (bahasa bali), akupun berbicara panjang lebar dengan petani salak itu dan sempat berkunjung kerumahnya dan saya pun diberikan salak yang dipetik langsung dari tanamannya, rasanya sangat manis, baru pertama kali makan buah salank langsung dipetik dari pohonya, tak lupa saya ucapkan terimakasih, dan saya berikan sebagian rejeki saya kepadanya, awalnya dia nolak, tapi aku paksa karena saya merasa simpati atas kurangnya kesejahteraan petani itu saya lihat dari rumah tinggalnya, dan dia akhirnya menerimanya.

Riset II ke dusun Dukuh Sibetan
Setelah riset pertama bersama rekan-rekan, selajutnya di riset kedua saya melakukanya sendiri dengan naik motor ke lokasi. saat sampa idisana perutku berbunyi keroncongan, dan sayapun menyantap nasi bungkus yang sudah saya bawa dari rumah, hujan pun turun menghiasi kesendirianku yang sedang asik makan di gubuk sederhana, lalu saya ke rumah petani yang saya jumpai saat pertama kesana itu, lalu bertanya dusun Dukuh Sibetan yang merupakan dusun tempat pengembangan pusat obyek Agrowisata disana, sayapun pamit menuju ke Dusun dukuh. Akhirnya saya tiba di Bale Banjar Dukuh dan bertanya kepada penduduk sekitar, setelah berbincang-bincang akhirnya saya mencari Bapak Karsa yang merupakan keliat adat disana, beliau yang mengkoordinasikan tentang Agrowisata di dusun Dukuh, beliau juga seorang Guru SMP, didusun itu dikembangkan produk Wine salak, yang setekah saya coba rasanya sangat nikmat dan tentunya beraroma salak. Saya banyak berbincang-bincang dirumah beliau. dan dari sana saya putuskan memilih bapak Karsa sebagai tokoh utama Film ini. Saya pun pamit pulang, sebelumya simpang di di dusun Pemukuran untuk meliahat View, luar biasa view disana, aku dapat melihat perbukitan, persawahan, hingga pantai, sebuah pemandangan yang indah. hari pun semakin gelap, aku segera bergegas pulang.... Capek emang sampai dirumah namun saya senang.

Ke Yayasan Wisnu, Kerobokan
Setelah riset kedua, data saya sudah lumayan banyak dari hasil percakapan dengan Bapak Karsa, yang sekaligus menjadi tokoh untama dalam Film ini, lalu atas saran beliau saya keyayasan wisnu di kerobokan untuk mencari informasi tentang Agrowisata Salak Sibetan, data yang terpenting yang saya dapet adalah tentang sejarah salak sibetan, yang bermula dari seorang Balian Sakti bernama Jero Dukuh Sakti. Akhirnya saya membeli 2 buku itu untuk menunjang data film ini, selain itu saya menbeli VCD tentang cerita dokumenter yang diproduksi yayasan Wisnu.

Menyusun Cerita dan Shotting List
Setelah data riset saya rasa cukup, kemudian saya mulai menyusun cerita hingga shotting list untuk membuat lebih terstruktur Film ini, sebagai gambaran Film ini mennagkat profil seorang petani salak yaitu pak Karsa yang juga seorang guru SMP, dimulai dari sejarah desa, kendala-kendala yang dihadapai seperti harga salak yang jatuh saat panen raya, pengembangan Agrowisata untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan pengolahan Salak menjadi kripik, dodol, manisan hingga Wine Salak, kendala ijin yang terus diperjuangkan, hingga harapan-harapan ke depan dan semuanya terangkum dengan pendekatan kearifan lokal yakni TRI HITA KARANA, seperti upacara Tumpek Wariga tanggal 21 Februari lalu dan semua kegiatan disana terangkum dalam konsep Tri Hita Karana tersebut yang diangkat sebagai tema penting dan mendasar dalam setiap kehidupan di Bali.


Riset III dan IV, Kunjungan wisatawan Belanda dan ASITA Bali
Setelah penulisan Cerita dan Shotting list, saya kembali berkunjung kesana hingga 2 kali, karena ada kunjungan turis Belanda dan kunjungan ASITA Bali yang merupakan perkumpulan Travel/Hotel di Bali. Saat kunjungan saya mengikuti kegiatan itu, Oya lupa! dari awal riset hingga sekarang saya terus membawa handycam untuk merekan kegiatan saya. terkadang bayak momen-momen di penting didesa yang bisa saya jadikan bahan untuk film seperti, ada ada pengembala bebek, orang sedang membajak, petani sedang memanen padi, dipasar penduduk sedang mempaket salak untuk dikirim, anak-anak kesekolah, petani sedang membuat tempat sesajen (sanggah cucuk) yang dihias dengan janur, tak lupa saya berhenti dijalamn dan merekamnya, walaupun penduduk sekitar menatapku seolah-oleh wartawan Bali TV, He he....
Aku pun mengikuti kemana kunjungan itu, mulai dari penyambutam di Bale Banjar, penjelasan tentang obyek Agrowisata Salak ini, hingga berkunjung ke paket-paket kebun salak dan terakhir mengunjungi tempat pembuatan Wine Salak dan terakhir menuju ke dusun Pemukuran utuk melihat indahnya pemandangan. lelah tapi mengasikkan, saya sangat menikmatinya walaupun harus harus bolak-balik Denpasar-Karangasem hingga 4 kali dan sangat sering harus menembus derasnya Hujan. tapi bagiku ini adalah perjuangan! he.. he.. kaya jaman penjajahan aja...

Laporan hasil Riset dan Cerita Film
setelah total melakukan riset dan menyusun cerita hingga shotting list, saya melaporkan kepada pimpinan PH, namun saya mendapat kejutan, dana riset tak kunjung turun, setiap saya minta pasti ditunda, dan kesanya hanya saya yang sibuk menghubunginya, ternyata kondisi perusahaan bener-bener lagi kekurangan dana, saya hanya berusaha bijak menyikapinya, rekan saya yang sempet bekerja disana akhirnya berhenti karena PH tak sanggunp menggaji, bahkan saya sempat memberikan oleh-oleh kepada bos PH itu berupa Wine salak, salak gula pasir, dodol dan kripik sebagai wujud silaturahmi, semua dana operational dari bensin, makan, beli buku, oleh-oleh hingga keringatku tak terbalaskan seratus rupiah pun.

Tetap bersemangat walau Terpatahkan
Ternyata gak di karir gak di kisah cinta hidupku, aku selau dicoba, ternyata Tuhan sekali sayang ama aku, banyak cobananya yang membuat aku semakin dewasa dan matang, Lho!? kok jadi curhat sih...? he he.... Ya begitulah Bro, intinya aku tetap bersemangat dalam hidup ini.

Akhirnya aku tunggu kabar dari PH itu dan tak kunjung dateng, aku sengaja menunggu karena lelah mengejar terus, padahal sebenarnya mereka yang penting dengan Aku, gak bermaksud menjelekkannya, mungkin lagi benar-benar sibuk dan dana tak ada sama sekali. akhirnya karena aku emang mencintai dan hobby di bidang ini, aku tak putus asa, aku tetap bersemangat dan bertekad akan menyelesaikan film ini sendiri.

Merangkap semua Produser, Riset, Cerita, Kameraman, Editor
Semangatku tetap berkobar.. cieh kayak pahlawan aja gue ya!? pakai kata-kata loe gue lg kayak orang jakarte aja loe! ha.. ha... Eit Stop tertawa sendiri! dasar aku emang Gila! tapi gila yang positif bukan gila kayak pasien bapakku! pasti nanya emang bapakku dokter gila? ya bapakku psikiater, namanya dr. Ratep, Sp.kj, kepala bagian poliklinik jiwa RS Sanglah, aku sayang dia, tapi terkadang aku sering menyakitinya karena dunia bapakku yang membutuhkan ilmu pasti sedang aku di dunia seni yang penuh kreatifitas dan imajinasi yang tak pasti, kami sering berselisih paham, tapi kami berusaha memahami, semoga suatu saat aku bisa menunjukkan kesuksesan kepadanya. Kembali lagi ke semangat tadi, aku tetap bersemangat untuk menyelesaikan Film ini, walaupun tanpa uang sepeserpun, justru aku yang mengeluarkan uang (Rugi) tapi ini bukan sekedar materi, tapi ini kepuasan Batin untuk diri aku yang ingin terus berkarya, apalagi ini untuk Baliku.

Tanpa pikir panjang aku meminjam camcorder Sony PD 170 milik Pak Diduk, salah satu rekan yang baru membuka PH sdi daerah jimbaran bernama Bint Pro, Pak Diduk mantan murid saya saat ngajar kursus video editing di Chamber Training Center di pertokoan Sudirman Agung, sehabis kursus Pak Diduk memulai membuka usahanya, dan saya sering membantu. Aku pinjam camcorder Sony PD 170 itu untuk shotting, mengambil scane tentang ritual tumpek Wariga/Uduh/Pengatag. Saya berangkat kesana sendiri lagi dengan sepeda motor, ditengah jalan hujan turun lebat dan tak lupa saya mengenakan mantel, perjalanan saya mulai dari sore jam 6, kecepatan motor saya turunkan karena hujan begitu lebat, aku pun berhenti sejenak dan mampir di sebuah warung sambil menikmati hidangan makan malam, akupun melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Pak Karsa, dijalan begitu seram, sepi dan hujan lebat, jalan sangat jarang kendarangan lalu-lalang, waktu itu jam 9 malam, jujur aku agak takut melintasi jalan itu, seperti berada di sebuah Film Horor, saya berucap dalam hati "Tuhan ternyata banyak sekali cobaan mu!" trimakasih atas cobaanmu yang terus membuatku semakin tangguh! Aku nyampai di rumah Pak Karsa jam 9.30 mlm, dan dipersilakan langsung menginap di kamar anaknya yang sedang nginep di rumah temennya. Saya mulai bersiap-siap untuk tidur dengan baju yang agak basah, dan tak lupa aku sms ortu dan salah satu temanku, tapi tak ada bls an, aku pun mulai merasakan kesendirian ini , ah mungkin mereka sedang tidur dan tak sempat baca sms ku. aku pun tidir dan bersiap-siap untuk shotting kegiatan tumpek Wariga keesokan harinya tanggal 21 februari 2009.

Pagi jam 5.30 aku sudah bangun dan memulai menpersiapkan alat-alat ku! suasana rumah masih gelap dan belum ada yang bangun, setelah jam 6 baru istri Pak Karsa terbangun dan menyapa hangat kepadaku! suara pagi dengan kicau burung dan kokoan ayam menghiasi suasana saat itu, akupun mencoba merekan suara itu dengan handycam yang kuletakkan disanggah Pak Karsa karena dekat dengan sumber kicauan burung, lalu setelah itu saya permisi ke dusun Penurukan untuk shotting view pemandangan pagi yang indah dengan perbukitan dan pantai, penduduk sekitar mulai memandangiku, dan akupun menyapa mereka! ya hari itu tumpek wariga, penduduk mulai menyiapan sesajen dan banten untuk memperingati tumpek ini, tak lupa saya shotting penduduk yang membawa sesajen ke kebun mereka masing-masing.
Saya mulai berexperimen dengan Camcorder PD170 itu, menggunakan teknik manual dengan mengatur shutter, appurture agar nampak front maupun background menjadi blur, seperti teknik profesional untuk sebuah Film. saya sangat menikmatinya dan terus belajar walaupun tak perna hada yang mengajarinya padaku. Setelah asyik shoting pemandangan dan suasana desa, saya kembali kerumah pak Karsa dan mengambil gambar aktifitas istri pak Karsa yang akan melaukan persembayangan Tumpek Wariga. mulai dari pengaturan sesajen, persembahyangan, hingga ngatag, ngatag ini bermakana upacara agar tanaman-tanaman ini dapat menghasilkan buah yang lebat untuk sesajen saat upacara Galungan dan Kuningan yang tinggal beberapa minggu lagi. setelah shoting kegiatan istri pak Karsa, saya mencoba merekan suasana desa dan kembali merekam kegiatan persembahyangan yang dilakukan Pak Dangin di kebun Salak yang ia kelola, kebun itu ternyata milik Pak Gredeg bupati Karangasem, sama seperti yang dilakukan oleh istri Pak Karsa tadi ritual upacaranya, stekah merekam saya di berikan salak gratis sekitar 2 kg. saat shotting sempet memakan buah salak yang tak petik langsung, au.. tanganku tertusuk duri salak, dan aku kembaki gila, aku coba rekam tanganku yang tertancap duri tacam sebanyak dua duri itu dengan camcorder PD170 itu, ah dasar dwi ada ja direkam ya!?
ya semoga bisa berharga untuk behaind the scane film.

Saya kenbali ke rumah Pak Karsa, jam menunjukkan pukul 11 siang, aku pun terdiam! Oya aku baru sadar aku belum mandi dan makan, ha ha saking asiknya aku lupa jadinya! akupun ditawari makan namanya blayat, bapakku sering makan itu dan dikampungku di singaraja sering dijumpai, makanku pun lahap karena kelaparan, Pak Karsa dateng dari mengajar, dnegan hangat kusapa makan pak? "gih durusan" bener gt tulisanya? ya habis makan dan mandi aku minta agar bapaknya untuk shotting menjelaskan tentang makna Tumpek ini, tak lupa aku rekam dengan handycam saat aku shotting dengan Camcorder PD170 itu. sempet ada kejadian lucu saat aku ambil gambar, yaitu suara babi yang akan makan siang, rekaman pun diuang sambil menungu babi diam. pengambilan gambar akhirnya selesai. dan saya pamit pulang , sebelumnya dipetik lagi Salak buat aku untuk oleh-oleh pulang.

Saya mencoba lewat jalan baru agar lebih cepat, hujan turun lagi menemani perjuangan ku, ternyata bukan hanya Hujan yang menjadi ujian dari Nya, tapi aku kesasar dan salah jalan hingga salah jalan menuju jalan proyek galian C, aku bertanya ternyata itu jalan buntu untuk menuju proyek, ha.. ha... dasar tengal aku ini! padahal saat itu aku kesel, capek, bercampur takut karena jalan rysak, hujan, jalan licin hingga ada longsor sedikit. tapi aku percaya Tuhan menyertaiku. Akhirnya kutemukan jalan, bukannya tambah deket tapi malah menjauh. capek terasa namun aku tetap bersemangat.

Akhir Kata, aku semoga perjuangan ku ini berbuah manis! manis yang pertama film ini bisa kuselesaikan, yang kedua ada sebuah PH atau stasiun TV yang bersedia menghargai Film ku ini nantinya, doakan ya? thanks buat semua!



Comments

2 comments to "Film Dokumenter | "Salak Bali dalam Riwayat dan Harapan""

ugiQ mengatakan...
7 April 2009 15:13

templatenya menyentuh bangetz... sukses selalu om... :D

antonemus mengatakan...
4 Agustus 2009 15:00

makasih infonya. ini kesasar gara2 cari info soal salak sibetan. btw, gudlak ya prestasinya. salam kenal dari subak dalem, gatsu. :)

Poskan Komentar

 

Dwi Creative Production Copyright 2009 - Theme by Brian Gardner - Blogger Template by Bloganol dot com